Header

Header
Dunia ini gelap. Carilah penerang. yaitu Ilmu Pengetahuan

Sabtu

Jendela Rumah Sakit



Jendela Rumah Sakit

Dua orang yang mempunyai penyakit serius menempati kamar yang sama di rumah sakit. Pasien yang satu, setiap siang hari dibolehkan duduk selama satu jam untuk mengeringkan cairan yang ada di paru-parunya. Tempat tidurnya terletak di sebelah jendela satu-satunya di kamar itu.


Pasien yang lain hanya dapat berbaring di atas punggungnya setiap hari. Kedua orang ini berbicara tentang istri, keluarga, rumah tangga, pekerjaan dan keterlibatan mereka dalam tugas-tugas militer.


Setiap siang, ketika pasien yang dekat jendela duduk, ia menghabiskan waktunya bercerita kepada teman sekamarnya tentang semua yang ia lihat dari balik jendela. Teman sekamarnya selama satu jam hidup dalam dunia yang lebih luas. Kegiatan dan warna dunia luar membuatnya lebih bergairah hidup.


Jendela itu menghadap ke taman yang di dalamnya ada telaga yang indah. Angsa dan itik bermainan di atas air sementara anak-anak melayarkan kapal-kapal mainannya. Sepasang kekasih jalan bergandeng tangan di antara bunga-bunga yang berwarna-warni seperti pelangi. Pohon tua yang besar menambah indahnya pemandangan. Garis bayangan kota terlihat di kejauhan. Setiap kali pasien yang di dekat jendela menjelaskan semuanya secara indah dan rinci, teman sekamarnya memejamkan mata membayangkan pemandangan itu.


Suatu siang yang hangat, pasien yang di dekat jendela menceritakan parade yang lewat. Meskipun teman sekamarnya sama sekali tidak mendengar suara drum band, tapi ia dapat melihat parade itu dalam pikirannya karena temannya menggambarkannya dengan jelas.


Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Suatu pagi, perawat yang datang membawakan air untuk mandi mereka mendapati tubuh pasien dekat jendela sudah tidak bernyawa. Ia meninggal dengan penuh kedamaian dalam tidurnya. Perawat yang selama ini telah merawatnya merasa sedih. Ia memanggil karyawan rumah sakit untuk memindahkan mayat itu.


Setelah menganggap layak waktunya, pasien yang lain bertanya apakah ia boleh pindah ke dekat jendela. Perawat tidak keberatan dengan pergantian tempat ini. Setelah merasa bahwa sang pasien telah berbaring dengan nyaman di sebelah jendela, sang perawat pergi meninggalkannya sendiri.


Perlahan-lahan dengan menahan sakit, pasien itu menggunakan sikunya agar tubuhnya naik dan dapat melongok ke jendela. Akhirnya ia bakal melihat pemandangan indah itu dengan mata kepalanya sendiri.


Ia tegangkan badannya lalu perlahan-lahan berputar untuk melihat ke jendela. Betapa kagetnya ketika ia mengetahui bahwa di balik jendela itu hanya tembok belaka. Si pasien lalu menceritakan kejadian yang dialaminya kepada perawat.

“Apa gerangan yang membuat teman sekamarku berbuat demikian?” Tanya si pasien kepada perawat.


“Lelaki itu sesungguhnya buta, tembok yang ada di seberang jendela itu pun tak dapat dilihatnya.” Jelas si perawat. “Mungkin ia ingin membesarkan hatimu.” (Author Unknown)

Abu Nawas Mendapat Hadiah

Malah Mendapat Hadiah



Pada suatu siang Abu Nawas berada di istana ketika Raja Harun Ar-Rasyid sedang sibuk menerima rombongan tamu dari kerajaan sahabat. Saat itu hanya ada dua orang pelayan. Abu Nawas diminta untuk membantu kedua pelayan itu.




Ketika Abu Nawas sedang membawa s

emang

kuk gulai yang masih panas untuk hidangan siang, tiba-tiba kakinya terpeleset. Gulai yang dibawanya pun tumpah dan sebagian mengenai muka sang raja.


Sebenarnya Raja sangat marah atas kejadian tersebut. Tetapi karena banyak tamu, ia tahan kemarahannya.



“Maafkan, Tuan-tuan, atas kelakuan pelayan kami yang kurang ajar tadi,” kata Raja.



Dari balik pintu tiba-tiba Abu Nawas membaca sepotong ayat Al-Qur’an, “.... Orang-orang yang bertaqwa, yaitu mereka yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya....”


“Ya, aku memang sedang menahan amarah,” sahut sang raja.



“Dan memaafkan atas kesalahan orang...,” Abu Nawas meneruskan pembacaan ayat.


“Baik, aku memaafkanmu atas kesalahanmu,” sahut Raja.


“Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (QS Ali Imran: 133-134),” Abu Nawas mengakhiri pembacaan ayat itu.


“Hai pelayan, kemari! Ini terimalah uang lima ratus dirham sebagai hadiah,” kata Raja. “Lain kali, tolong kamu siram lagi mukaku dengan gulai, biar kamu bisa menerima hadiah lebih besar lagi dariku.”



***



Salah satu ibrah yang bisa kita petik dari kisah di atas adalah kemuliaan menahan amarah.

Mungkin ada sebagian orang yang menganggap, orang yang bisa mengumbar amarah adalah orang yang kuat. Tidak, tidak demikian.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, “Bukanlah kuat itu dengan mengalahkan musuh saat bergulat, akan tetapi kuat itu adalah orang yang bisa menguasai dirinya tatkala marah.” (HR Bukhari Muslim dan Imam Ahmad).

Pada suatu hari, Nabi melewati sekelompok kaum yang saling bergulat, maka beliau bertanya, “Apakah ini?”

Mereka menjawab, “Dia pegulat yang kuat, tidaklah seorang pun yang bergulat dengannya kecuali dia mengalahkannya.”

Kemudian beliau berkata, “Aku tunjukkan kepada kalian orang yang lebih kuat darinya, yaitu seorang yang dizhalimi namun ia menahan kemarahannya. Ia mengalahkan orang yang menzhaliminya dan mengalahkan setan yang ada pada dirinya serta mengalahkan setan yang ada pada saudaranya.” (HR Al-Bazzar).

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman, “Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya hal demikian itu termasuk keteguhan yang kuat.” (QS As-Syura’: 43).

Jelas dari kedua hadits dan surah Al-Qur’an di atas, justru orang yang mampu menguasai dirinya saat marah adalah orang yang kuat. Bukan orang yang mengumbar amarah dengan berteriak-teriak, mencaci maki, dan sebagainya, misalnya. Sebagaimana yang sering kita saksikan akhir-akhir ini, yang mungkin saja di antara pelakunya adalah saudara kita juga, umat Islam. Di jalanan, bahkan di televisi, yang ditonton seluruh rakyat negeri ini, juga dunia.

Tentu tidak berarti kita anti demo, karena adanya demonstrasi adalah salah satu ciri negeri yang demokratis. Hanya saja, demo yang Islami adalah demo yang tidak mencaci maki, karena Islam tidak pernah mengajarkan kepada umatnya hal yang demikian. Apalagi demo yang anarkis, karena Islam tidak pernah mengajarkan kepada penganutnya untuk merusak.

Bagi mereka yang mampu menahan amarah, Allah telah menyediakan ganjaran. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa menahan kemarahannya sedangkan ia mampu untuk melakukannya, Allah Azza wa Jalla akan menyeru dia di hadapan seluruh manusia pada hari Kiamat untuk dipilihkan baginya bidadari yang dikehendakinya.” (HR Abu Daud).

Rasulullah juga bersabda, “Janganlah marah, maka bagimu adalah surga.” (Hadits shahih Al-Jami’).

Lebih dari itu semua, menahan amarah adalah perintah Nabi SAW. Dan karena itu perintah Nabi, tentu kita semua, sebagai umatnya, mesti melaksanakan.

Disebutkan dalam hadits, seorang lelaki berkata kepada Nabi SAW, “Berilah aku wasiat.”

Beliau berkata, “Janganlah marah.”

Tahap selanjutnya, setelah mampu menahan amarah, yaitu memaafkan. Allah berfirman, “Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya secara sembunyi dan terang-terangan dan orang yang menahan kemarahan serta memaafkan orang lain, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS Ali Imran:134). “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS Al-A’raf: 199).

Sering kita saksikan di televisi beberapa ahli mengatakan bahwa serang-menyerang antar-rezim terjadi karena dendam sejarah.

Seseorang, atau bahkan rezim, kalau bersalah memang boleh diadili, atau mungkin harus diadili. Tapi dasarnya mestinya adalah upaya penegakan hukum dan keadilan, bukan dendam. Jika dendam yang dijadikan dasar, kesalahan yang kecil pun bisa terlihat besar. Seorang bijak mengatakan, dendam itu ibarat batu kerikil yang meluncur di lembah yang bersalju. Makin jauh, akan makin membesar.

Seseorang, atau bahkan rezim, kalau bersalah memang boleh diadili, atau mungkin harus diadili. Tapi, bukankah memaafkan itu lebih mulia?

Dalam konteks negeri ini, bisakah kita menutup semua lembaran sejarah kelabu masa lalu? Bisakah kita cukup menjadikannya sebagai pelajaran?

Demi membangun Indonesia yang lebih baik, Indonesia yang penuh kedamaian, bisakah kita menjadikan langkah kita sekarang ini sebagai langkah awal yang terbebas dari segala macam konflik, atau setidaknya meminimalisir? Kalau kita ikhlas, mau, dan mampu mengendalikan sifat marah, jawabannya jelas: Bisa!



Mengatasi Kemarahan

Untuk mengatasi kemarahan, Islam memberikan petunjuk.

Pertama, berlindung kepada Allah dari godaan setan. Karena, di samping nafsu yang ada dalam diri kita, peran setan juga sangat dominan dalam membangkitkan amarah. Rasulullah SAW bersabda, “Aku mengetahui satu kalimat yang, seandainya diucapkan, niscaya akan hilanglah gejolak yang ada pada diri:



أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ



“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.” (HR Bukhari-Muslim).

Kedua, diam, tidak berbicara. “Apabila salah seorang di antara kalian marah, hendaklah diam.” (HR Imam Ahmad).

Ketiga, tinggalkan tempat, berdirilah, lalu pergi.

Keempat, bersikap tenang, duduk apabila sedang berdiri, atau tidur telentang bilamana sedang duduk. Rasulullah SAW bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian marah sedangkan dia berdiri, hendaklah dia duduk, agar kemarahannya hilang. Apabila masih belum mereda, hendaklah berbaring.” (HR Abu Daud).

Kelima, berwudhu. Nabi bersabda, “Marah itu adalah bara api, maka padamkanlah dia dengan berwudhu’.” (HR. Al-Baihaqi).

Keenam, shalat. "Penghapus setiap perselisihan adalah dua raka’at (shalat sunnah).” (HR Silsilah Hadits Shahihah).

Meredam Kemurkaan Ilahi

Meredam Kemurkaan Ilahi

Seorang pria muda (sebutlah ia bernama amir) mendengar hadits-hadits dan ayat tentang mulianya bersedekah di jalan Allah, betapa mulianya berinfaq dengan shadaqatussir (sedekah secara sembunyi-sembunyi), sebagaimana hadits Rasul SAW : Sedekah dengan sembunyi-sembunyi memadamkan kemurkaan Allah. (HR Thabrani dg sanad Hasan). Maka bangkitlah di hati Amir niat luhur untuk melakukannya, ia merasa telah banyak bermaksiat dan ia merasa ibadah-ibadahnya tak cukup untuk memadamkan kemurkaan Allah SWT dan iapun mulai mengumpulkan hartanya, setiap ia mendapat untung dari pekerjaannya selalu ia sisihkan untuk bersedekah secara sembunyi-sembunyi, siang malam ia terus berusaha dengan gigih mengumpulkan uang hingga setahun lamanya, terkumpullah sejumlah uang dinar emas yang cukup banyak jumlahnya.


Malam itu Amir menaruh seluruh uangnya itu dalam kantung besar, lalu ia berpakaian gelap dan penutup wajah hingga tak seorangpun mengenalinya, ia berjalan ditengah malam yang sunyi, tiba-tiba ia melihat seorang wanita yang tertidur di emper jalan, maka ia lemparkan kantong uangnya pada tubuh si wanita, si wanita pun kaget terbangun, dan hanya menyaksikan pria bercadar itu lari terbirit-birit. Amir membatin dalam hatinya, “ah” wanita itu pasti berharap isi kantung itu adalah makanan, namun, MASYA ALLAH, SETUMPUK UANG DINAR!!..wah.. dia pasti gembira dan mendoakanku..Puji syukur atas Mu Rabbiy, aku lelah setahun mengumpulkan uang untuk hal ini, semoga Engkau menjadikannya shadaqah rahasia yang kau terima..

Keesokan harinya heboh lah kampung itu dengan kabar bahwa seorang wanita pelacur mendapat sekantung uang dinar emas ketika sedang menunggu pelanggannya, mendengar berita itu maka Amir terhenyak lemas.. ia membatin, Subhanallah.. pelacur.. sedekahku yang kukumpulkan setahun ternyata ditelan pelacur, ah.. sedekahku tak diterima oleh Allah.. hanya menjadi santapan wanita pezina dan penyebab orang berzina, naudzubillah!

Amir muram dan sedih.. namun ia tetap penasaran, ingin agar sedekahnya diterima oleh Allah dan tak salah alamat, maka ia mengumpulkan lagi harta dengan lebih gigih lagi hingga setahun lamanya, setelah harta terkumpul ia membeli sebanyak-banyaknya perhiasan emas dan berlian, terkumpullah sekarung perhiasan beragam corak dan jenis.. ah.. ia puas memandang jerih payahnya, iapun mengulangi perbuatannya, menggunakan penutup wajah dan membawa karung perhiasan itu ditengah malam, tiba-tiba ia melihat seorang lelaki setengah baya yang sedang berjalan ditengah malam, wajahnya tampak kusut dan penuh kegundahan, maka si Amir pun melemparkan karung itu pada si lelaki dan berkata : “Terimalah sedekahku” lalu iapun lari terbirit-birit, agar si lelaki itu tak mengenalinya.

Keesokan harinya kampung itu gempar, semalam ada seorang perampok yang ketiban rizki sekarung perhiasan dari lelaki misterius, ah..ah.. Amir sangat lesu.. dua tahun sudah kukumpulkan uang dengan susah payah, tapi selalu salah alamat. Namun Amir masih juga penasaran, ia kembali kumpulkan uang.. berlanjut hingga setahun, maka ia berbuat seperti tahun yang lalu lalu, menaruh uang dinar emasnya di kantung kulit, lalu berjalan ditengah malam.. ia melihat seorang tua renta yang berjalan tertatih tatih sendirian.. nah.. ini.. pasti tak salah alamat..gumam Amir.. iapun memberikan kantung Dinar Emasnya pada Kakek itu dan lari.

Keesokan harinya kampung itu gempar lagi, seorang Kakek yang menjadi orang terkaya di kampung itu mendapat sedekah sekantung emas dinar.. maka Amir pun roboh.. ia kapok.. berarti memang ia adalah pria busuk yang sedekahnya tak akan diterima oleh Allah, 3 tahun ia berjuang namun Allah menghendaki lain.., Amir pun berdoa : “Rabbiy kalau kau menerima sedekahku itu maka tunjukkanlah.”

Zaman terus berlanjut tanpa terasa, puluhan tahun kemudian Amir sudah tua renta, di usia senjanya ia mendengar ada dua orang ulama adik kakak, keduanya menjadi ulama besar dan mempunyai murid ribuan, kedua Ulama itu anak yatim, ayah mereka wafat saat mereka masih kecil, lalu karena jatuh miskin maka ibunya akhirnya melacur untuk menghidupi anaknya, dalam suatu malam ibunya bermunajat pada Allah : “Rabbiy, kuharamkan rizki yang haram untuk anak-anakku, malam ini berilah aku rizki Mu yang halal, lalu Ibu itu tertidur di emper jalan, lalu ada seorang misterius yang melemparkan sekantung uang dinar emas padanya, lelaki itu menutup wajahnya dengan cadar, maka sang Ibu gembira, bertobat, dan menyekolahkan anaknya dengan uang itu dan hingga kedua anaknya menjadi Ulama dan mempunyai murid ribuan banyaknya…

Airmata menetes membasahi kedua pipi Amir yang sudah tua renta, oh.. sedekah ku itu ternyata diterima Allah.. dan pahalanya dijaga Allah hingga berkesinambungan dengan anak-anak sipelacur yang menjadi ulama dengan uang sedekahnya, dan memiliki murid ribuan pula, Maha Suci Allah.. Dia tidak menyia-nyiakan jerih payahku.. namun apa nasibnya dengan sedekahku yang tahun kedua, belum lama Amir membatin, datang pula kabar bahwa seorang Wali Allah baru saja wafat, dia dulunya adalah perampok, suatu malam ia dilempari sekarung perhiasan oleh pria misterius, lalu ia bersyukur kepada Allah, beribadah dan beribadah, meninggalkan kehidupan duniawi, berpuasa dan bertahajjud, hingga menjadi orang yang Shalih dan Mulia dan wafat sebagai dengan mencapai derajat Waliyullah (kekasih Allah) dan banyak pula orang yang bertobat ditangannya.

Amir semakin cerah wajahnya dan semakin malu kepada Allah, tak lama sampai pula kabar padanya bahwa telah dibangun sebuah rumah amal, yang selalu tak pernah sepi dikunjungi para pengemis, rumah amal itu selalu membagi-bagikan hartanya pada para Fuqara, rumah amal itu didirikan oleh seorang tua renta yang kaya raya di kampung itu, ia awalnya sangat kikir, namun suatu malam ia dihadiahi sekantung uang dinar emas oleh pria misterius, iapun malu dan bertobat, lalu menginfakkan seluruh hartanya untuk rumah amal.

Amir tak tahan menyungkur sujud kehadirat Allah SWT, betapa luhurnya Dia Yang Maha Menjaga Amal nya yang tak berarti hingga berlipat-lipat dan berkesinambungan, ah.. Amir benar-benar telah mencapai cita-citanya.. yaitu sabda Rasul saw : “Sedekah secara sembunyi-sembunyi memadamkan kemurkaan Allah” dan ia mendapatkan pahala yang terus mengalir tanpa henti, bagai menaruh saham dengan keuntungan berjuta kali lipat setiap kejapnya, betapa tidak, apalah artinya sekantung uang dinar emas dibanding pahala sujud orang yang bertobat, sedangkan kita mendengar hadits Rasul saw : “Dua raka’at Qabliyah Subuh lebih mulia dari dunia dan segala isinya.” Lalu bagaimana dengan pahala yang bertumpuk dari sebab amal sedekahnya yang tak berarti itu, betapa beruntungnya si pria ini, dan betapa mulia derajatnya, dan merugilah mereka yang kikir dengan hartanya, yang merasa bahwa makan dan minumnya lebih berhak didahulukan daripada menjadikannya perantara yang mendekatkannya pada Keluhuran yang Abadi, ah.. semoga aku dan kalian dikelompokkan sebagai penanam saham untuk meneruskan tegaknya Dakwah Nabi Muhammad SAW. Amiin…

Sumber :
Penjelasan Kitab Al-Hikam oleh Al-Allamah Al-Habib Umar bin Hafidh, pada pesantren kilat 40 hari pada Jumaditsani 1425 H di Darulmustafa Tarim, Yaman. Mukhtar Al-Hadits.

Operasi dengan Segelas Susu

Suatu hari, seorang anak miskin yang berjualan dari rumah ke rumah untuk membiayai sekolahnya merasa sangat lapar tapi hanya mempunyai uang satu sen. Ia memutuskan untuk minta makan di rumah berikutnya, namun segera kehilangan keberaniannya ketika seorang gadis cantik telah membukakan pintu. Sebagai gantinya ia minta air.


Gadis itu melihat bahwa si anak kecil tampak kelaparan, ia lalu membawakannya segelas besar susu. Anak itu pun meminumnya perlahan-lahan.


“Berapa harus kubayar segelas susu ini?” kata anak itu.



“Kau tidak harus membayar apa-apa,” jawab si gadis. “Ibu melarangku menerima pembayaran atas kebaikan yang kulakukan.”


“Bila demikian, kuucapkan terima kasih banyak dari lubuk hatiku.”

Howard Kelly lalu meninggalkan rumah itu. Ia tidak saja lebih kuat badannya, tapi keyakinannya kepada Tuhan dan kepercayaannya kepada sesama manusia menjadi semakin mantap. Sebelumnya ia telah merasa putus asa dan hendak menyerah pada nasib.


Beberapa tahun kemudian gadis itu menderita sakit parah. Para dokter setempat kebingungan sewaktu mendiagnosa penyakitnya. Mereka lalu mengirimnya ke kota besar dan mengundang beberapa dokter ahli untuk mempelajari penyakit langka si pasien. Dokter Howard Kelly akhirnya dipanggil ke ruang konsultasi untuk dimintai pendapat.


Ketika mendengar nama kota asal si pasien, terlihat pancaran aneh di mata Dokter Kelly. Ia segera bangkit lalu berjalan di lorong rumah sakit dengan berpakaian dokter untuk menemui si pasien. Dokter Kelly segera mengenali wanita sakit itu. Ia lalu kembali ke ruang konsultasi dengan tekad untuk menyelamatkan nyawanya.


Sejak hari itu Dokter Kelly memberikan perhatian khusus pada kasus si pasien. Setelah dirawat cukup lama, akhirnya si pasien bisa disembuhkan. Dokter Kelly meminta kepada bagian keuangan agar tagihan rumah sakit diajukan kepadanya dahulu untuk disetujui sebelum diserahkan kepada si pasien.


Nota tagihan pun kemudian dikirimkan ke kantor Dokter Kelly. Ia mengamati sejenak lalu menuliskan sesuatu di pinggirnya. Tagihan itu kemudian dikirimkan ke kamar pasien.


Si pasien takut membuka amplop nota tagihan karena yakin bahwa untuk dapat melunasinya ia harus menghabiskan sisa umurnya.


Akhirnya, tagihan itu dibuka dan pandangannya segera tertuju pada tulisan di pinggir tagihan itu :


Telah dibayar lunas dengan segelas susu

Tertanda

DR. Howard Nelly


Air mata bahagia membanjiri mata si pasien. Ia berkata dalam hati, “Terima kasih Tuhan, cinta-Mu telah tersebar luas lewat hati dan tangan manusia.” (Author Unknown)

Oh Bayiku

Oh Bayiku


Bu Mina sedang hamil tua, ia sedang berjalan tertatih tatih disebuah jalan, seraya selalu terbebani oleh kandungannya yang sudah besar, kemanapun ia melangkahkan kakinya, ia dibebani oleh kandungannya, dijalan, dirumah, berdiri, duduk bahkan tidurpun ia selalu terganggu oleh perutnya, hanya satu harapan yang selalu menghiburnya siang dan malam, “aku akan mendapatkan seorang anak yang akan menjadi kebanggaanku kelak”, tak ada seorang ibu yang tidak bercita-cita seperti ini, iapun terus bersabar menahan segala penderitaan yang menimpanya, hingga saat-saat melahirkanpun tiba.

Malam itu hujan turun dengan derasnya, Bu Mina merasakan bahwa kandungannya akan segera lahir, suaminya, Imron berlari dikegelapan malam mencari bidan yang rumahnya agak jauh dan harus ditempuh dengan berjalan kaki, tiada yang mendorongnya untuk berlari di derasnya hujan selain keselamatan bayinya, kalau ia harus melewati lautan apipun akan ditempuhnya asalkan bayinya selamat, iapun sampai dirumah bidan yang sudah terlelap tidur, ia memaksa bidan untuk mau menolong istrinya, ia rela mengorbankan semua hartanya asalkan bidan mau menolongnya.

Bidan itu dengan enggan mengikuti Imron kerumahnya, ia melayani bidan itu lebih dari pelayanan seorang ajudan terhadap rajanya, ia memayungi bidan seakan-akan jangan sampai setetespun air hujan membasahi tubuh sang bidan, dengan penuh cemas kalau-kalau sang bidan berubah pikiran untuk membatalkan niatnya, dibiarkannya tubuh yang basah kuyup oleh derasnya hujan, mungkin apabila air hujan itu berupa batu sekalipun ia tak akan memperdulikannya.

Ketika mereka tiba ditujuan, bidanpun menyiapkan segala sesuatunya sementara Bu Mina sudah menjerit jerit menahan sakit. Waktupun berjalan dengan lambatnya, sang suami bercucuran keringat dingin menunggu keadaan yang sangat kritis, terlintas dalam pikirannya betapa indahnya kalau kepedihan sang istri dipindahkan kepadanya. Tak lama terdengarlah tangis seorang bayi yang melengking memecah kesunyian malam yang baru saja reda dari hujan lebat, tak lama bidanpun keluar memeluk sesosok bayi mungil yang masih merah, sementara sang ibu masih tak sadarkan diri, Imron menangis sambil memeluk bayi mungilnya, iapun menghadapkan dirinya kekiblat, lalu mendekatkan mulutnya ketelinga sang bayi, “Allahu Akbar.. Allahu Akbar, Allahu Akbar.. Allahu Akbar.., Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah.., Asyhadu an Laa Ilaaha Illallah.., Asyhadu anna Muhammadurrasulullah..”, ia mengadzankan bayinya sambil bercucuran airmata kegembiraan.

Bayi mungil itu terus diasuh oleh ibunya tanpa mengenal waktu, sang ibu mengatur segala-galanya demi kesehatan bayinya, mengatur kapan waktu bayi itu dimandikan, dengan air yang tak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, mengatur waktu agar bayi itu terkena matahari dipagi hari, memakaikan pakaiannya, membersihkan tubuhnya, membedakinya, dan segala-galanya lebih dari perhatiannya pada dirinya sendiri, dengan penuh kasih sayang. Sepasang suami istri itu terus mengayomi anak mereka tanpa mengenal bosan, seringkali sang bayi mengganggu tidur mereka, tapi itu semua tidak mengurangi kasih sayang mereka, Mereka menuntunnya berbicara, mengenal nama-nama benda, menuntunnya berjalan, dan mengajarinya semua perilaku kehidupan.

Sang ibu sudah kehilangan waktu untuk merias dirinya, sang ayahpun lupa waktu dalam bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan bayinya. Anak merekapun tumbuh semakin besar, tidaklah sang ayah pergi meninggalkan rumah terkecuali terbayang canda anaknya dirumah, Waktupun berjalan dengan singkatnya.

Seorang lelaki tua terbaring disebuah ranjang, ia tersengal sengal menahan detik-detik sakratulmaut, disampingnya duduklah seorang pemuda berambut gondrong dengan perawakan kusam tanpa cahaya keimanan, pemuda itu tak tahu harus berbuat apa atas ayahnya yang sudah di pintu kematiannya, lelaki tua itu hanya memandangi anaknya tanpa mampu berucap apa-apa, pikirannya melayang beberapa puluh tahun yang silam, saat ia berlari-lari ditengah derasnya hujan dikegelapan malam, ia teringat ketika ia berteriak-teriak mengucapkan salam dirumah sang bidan sambil berharap sang bidan mau membantunya, ia teringat pada saat ia mencucurkan airmata kegembiraan dengan memeluk bayi mungilnya, ia teringat tatkala ia mendekap bayi mungilnya, lalu mengadzankan sikecil, lalu menidurkan bayinya dengan senandung kasih sayang.

Kini bayi mungil itu berubah menjadi pemuda gondrong berwajah kusam dan gelap dari cahaya hidayah seakan akan ia ingin berkata.., “Tak kusangka… tak kusangka.., bayi mungilku yang dulu kuadzankan dan kutimang akan seperti ini…, aku tidak mengharapkan apa-apa darimu nak.., tapi bantulah ayah yang kini sedang dipintu kematian”, betapa hancur dan pilunya sang ayah yang harus menerima kepahitan hidup yang paling pedih.., menemui kematian dengan meninggalkan anak yang tidak mengenal keimanan, elaki tua itupun menemui kematiannya dengan menyedihkan, dengan seribu kekecewaan yang terus akan menemaninya dikuburnya.

Pagi hari itu seorang ibu setengah baya sedang duduk diberanda rumahnya memandangi kedatangan seorang pemuda berbaju putih dengan sarung dan peci yang masih dibasahi air wudhu sambil membawakan terompah ibunya dan menaruhnya dikaki sang ibu, seraya mencium tangan ibunya dan berkata “saya ngaji dulu bu” lalu berlari terburu-buru dan hilang dikegelapan malam, tangan sang ibu masih dibasahi bekas air wudhu anaknya, ibu itu memandangi kepergian anaknya sambil termenung, Segala puji bagimu wahai Allah, aku ridho terhadap anakku, limpahkan kasih sayang Mu atasnya.., tanpa terasa ibu itu mencucurkan airmata kegembiraan melihat keadaan anaknya..,

Maka turunlah limpahan rahmat dari Yang Maha Agung terhadap pemuda itu, terhadap ibunya dan ayahnya, mereka terus dinaungi kasih sayang Nya hingga mereka satu persatu dipanggil ke hadapan Nya.

Termasuk sosok anak yang manakah dirimu wahai pembaca….?

Operasi dengan Segelas Susu

Operasi dengan Segelas Susu

Suatu hari, seorang anak miskin yang berjualan dari rumah ke rumah untuk membiayai sekolahnya merasa sangat lapar tapi hanya mempunyai uang satu sen. Ia memutuskan untuk minta makan di rumah berikutnya, namun segera kehilangan keberaniannya ketika seorang gadis cantik telah membukakan pintu. Sebagai gantinya ia minta air.


Gadis itu melihat bahwa si anak kecil tampak kelaparan, ia lalu membawakannya segelas besar susu. Anak itu pun meminumnya perlahan-lahan.

“Berapa harus kubayar segelas susu ini?” kata anak itu.

“Kau tidak harus membayar apa-apa,” jawab si gadis. “Ibu melarangku menerima pembayaran atas kebaikan yang kulakukan.”

“Bila demikian, kuucapkan terima kasih banyak dari lubuk hatiku.”

Howard Kelly lalu meninggalkan rumah itu. Ia tidak saja lebih kuat badannya, tapi keyakinannya kepada Tuhan dan kepercayaannya kepada sesama manusia menjadi semakin mantap. Sebelumnya ia telah merasa putus asa dan hendak menyerah pada nasib.


Beberapa tahun kemudian gadis itu menderita sakit parah. Para dokter setempat kebingungan sewaktu mendiagnosa penyakitnya. Mereka lalu mengirimnya ke kota besar dan mengundang beberapa dokter ahli untuk mempelajari penyakit langka si pasien. Dokter Howard Kelly akhirnya dipanggil ke ruang konsultasi untuk dimintai pendapat.


Ketika mendengar nama kota asal si pasien, terlihat pancaran aneh di mata Dokter Kelly. Ia segera bangkit lalu berjalan di lorong rumah sakit dengan berpakaian dokter untuk menemui si pasien. Dokter Kelly segera mengenali wanita sakit itu. Ia lalu kembali ke ruang konsultasi dengan tekad untuk menyelamatkan nyawanya.


Sejak hari itu Dokter Kelly memberikan perhatian khusus pada kasus si pasien. Setelah dirawat cukup lama, akhirnya si pasien bisa disembuhkan. Dokter Kelly meminta kepada bagian keuangan agar tagihan rumah sakit diajukan kepadanya dahulu untuk disetujui sebelum diserahkan kepada si pasien.


Nota tagihan pun kemudian dikirimkan ke kantor Dokter Kelly. Ia mengamati sejenak lalu menuliskan sesuatu di pinggirnya. Tagihan itu kemudian dikirimkan ke kamar pasien.


Si pasien takut membuka amplop nota tagihan karena yakin bahwa untuk dapat melunasinya ia harus menghabiskan sisa umurnya.


Akhirnya, tagihan itu dibuka dan pandangannya segera tertuju pada tulisan di pinggir tagihan itu :


Telah dibayar lunas dengan segelas susu

Tertanda

DR. Howard Nelly


Air mata bahagia membanjiri mata si pasien. Ia berkata dalam hati, “Terima kasih Tuhan, cinta-Mu telah tersebar luas lewat hati dan tangan manusia.” (Author Unknown)

Pasir dan Batu

Dikisahkan bahwa ada dua orang sahabat sedang melakukan perjalanan menyeberangi padang pasir. Pada suatu tempat, mereka terlibat dalam perdebatan sengit, sahabat yang satu menampar muka sahabat yang lain. Sahabat yang ditampar merasa terluka hatinya. Tanpa mengucapkan sepatah kata, ia menulis di pasir :


“HARI INI SAHABAT BAIKKU MENAMPARKU”


Mereka lalu melanjutkan perjalanan. Dan dalam perjalanan berikutnya, mereka menemukan danau lalu mandi di danau tersebut. Orang yang ditampar tadi terjebak dalam lumpur hisap dan mulai tenggelam. Sahabatnya pun datang menolong. Setelah berhasil diselamatkan ia menulis di atas batu :


“HARI INI SAHABAT BAIKKU TELAH MENYELAMATKANKU”


Temannya berkata, “Tadi kau menulis di pasir, sekarang kau menulis di atas batu, mengapa ?”


Ia pun menjawab, “Jika seseorang melukai hati kita, sebaiknya kita menulis kejadian itu di atas pasir agar angin pengampunan dapat menghapusnya. Namun, bila seseorang berbuat baik kepada kita, hendaknya kita mengukir peristiwa itu di batu sehingga angin takkan pernah dapat menghapusnya.” (Author Unknown)

Rasululloh dan Kotoran Manusia


Nabi SAW bukanlah seorang kekasih Allah yang dimanjakan Tuhan. Beliau harus berjuang dan bekerja keras dalam mengemban amanat Allah selaku utusan-Nya. Beliau sering dihina, dicaci, dan diancam oleh musuh-musuhnya dalam memperjuangkan tegaknya kebenaran ajaran Islam.

Dalam suatu masa, tiap kali Rasulullah membuka pintu pagi-pagi untuk menjalankan Shalat Subuh di Masjid, sudah tertumpuk di ambang pintu rumahnya kotoran manusia. Nabi mengambil air dan membersihkan tempat itu dahulu, baru bisa meneruskan niatnya.

Besoknya pagi-pagi, bukan setumpuk kotoran manusia yang beliau dapatkan di muka pintu, malah dua tumpuk besar. Dan besoknya, bertambah lagi hingga tiga tumpuk. Demikianlah selanjutnya.

Namun Nabi tidak mengeluh. Dengan sabar beliau bersihkan sendiri tempat bernajis itu tiap hari, sampai akhirnya orang jahat yang melakukan perbuatan keji itu merasa bosan sendiri dan menghentikan tindakannya menumpuk kotoran manusia di depan pintu rumah Nabi SAW.

Lepas kejadian itu, Nabi belum terbebas dari kejahatan musuh-musuhnya. Tiap kali beliau melalui sebuah rumah berloteng dalam perjalanan ke Masjid, selalu dari jendela atas ada seseorang yang menumpahkan air najis ke kepalanya. Begitu yang beliau alami saban hari.

Namun Nabi tidak marah. Bahkan tatkala beberapa hari sesudah itu tidak ada air najis yang ditumpahkan ke kepalanya dari jendela loteng itu. Nabi bertanya kepada para sahabat.

“Kemana orang yang tinggal di loteng atas itu?”
“Ada apa ya Rasulullah?” Tanya para sahabat, sebab mereka heran mengapa Nabi menanyakan keadaan orang kafir yang menghuni loteng atas itu.
“Tiap hari biasanya ia selalu memberikan sesuatu kepadaku. Hari ini tidak, jadi aku bimbang tentang keadaannya.”
“Kebimbanganmu tidak keliru, ya Rasulullah. Orang itu sedang sakit keras dan tidak keluar dari biliknya.”

Maka Nabi SAW menyuruh istrinya menyiapkan makanan untuk beliau bawa sendiri ke rumah orang jahat itu, sambil menengok keadaan sakitnya dan mendo’akan agar cepat sembuh.

Orang itu sangat terperanjat menerima kedatangan Rasulullah dengan membawa makanan yang lezat-lezat, padahal tiap hari ia memberikan air najis kepadanya. Orang itu pun amat malu dan menangis-nangis minta maaf.

Dengan lapang dada Rasulullah memberi maaf, sehingga orang itu kemudian menjadi sahabat yang setia. Apalagi dari kalangan kaum lain. Sedangkan paman Nabi saja, Abu Jahal, juga sangat jahat kepadanya. Pernah Abu Jahal mengirim utusan yang mengatakan bahwa ia tengah menderita demam hebat, ingin ditengok oleh Rasulullah SAW.

Sebagai kemenakan yang berbakti, Rasulullah segera bergegas hendak berangkat menuju ke rumah Abu Jahal.

Pemimpin orang musyrik itu sebetulnya tidak sakit. Ia telah menyiapkan lubang di depan pembaringannya yang ditutup di atasnya dengan permadani, sedangkan di dalam lubang itu telah dipasanginya beberapa tonggak yang runcing-runcing, maksudnya untuk menjerumuskan Nabi SAW ke dalamnya.

Nabi kedengaran mulai melangkah masuk ke dalam kamar Abu Jahal. Tokoh busuk itu cepat-cepat menutupi badannya dengan selimut sambil pura-pura merintih. Namun dalam pendengaran Rasulullah, rintihan Abu Jahal itu tidak wajar dan berlebih-lebihan, tidak sesuai dengan wajahnya yang tetap cerah dan berwarna merah.

Maka Nabi pun tahu, pasti Abu Jahal sedang menyiapkan jebakan untuknya. Karena itu, begitu beliau hampir menginjak permadani yang di bawahnya menganga sebuah lubang berisi tonggak-tonggak runcing, beliau segera permisi lagi dan keluar tanpa berkata sepatah pun.

Abu Jahal terkejut. Ia bangun dan memanggil-manggil Nabi agar datang mendekat kepadanya. Karena Nabi tidak menggubris, Abu Jahal lalu bangkit dan melompat ke permadani hendak mengerjar Nabi. Ia lupa akan perangkap yang dibuatnya. Akibatnya ia terjerumus sendiri ke dalam lubang itu dan menderita luka-luka yang cukup parah.

Akhirnya terpenuhi juga keinginan Abu Jahal ingin ditengok Rasulullah. Sebab, setelah terperosok ke lubang itu ia betul-betul sakit. Nabi pun datang membawakan makanan-makanan lezat, yang diterima Abu Jahal dengan muka kecut.

Sumber :

Buku 30 Kisah Teladan 3 oleh KH. Abdurrahman Arroisi

Utusan Malaikat Maut

Cerita ini adalah sebuah dongeng kuno.

Pada suatu hari, seseorang didatangi oleh Malaikat Izrail yang bertugas mencabut nyawa.

Orang itu lalu bertanya :

“Apakah kedatanganmu ini sebagai kunjungan biasa atau untuk mencabut nyawaku?”


“Malaikat Izrail menjawab, “Kunjungan biasa.”

Orang itu berkata lagi :

“Demi persahabatan kita, jika dekat ajalku nanti kirimlah utusan untuk memberitahu aku.”

Malaikat Izrail menyetujui permintaan itu.

Tibalah saat Malaikat Izrail datang untuk mencabut nyawanya.

Orang itu kemudian berkata :


“Bukankah belum pernah ada utusanmu yang datang kepadaku untuk memberitahukan perkaraku ini?”

Malaikat Izrail menjawab :

“Sudah… sudah pernah datang, bahkan beberapa kali.

Bukankah tulang punggungmu bungkuk padahal sebelumnya lurus.

Rambutmu memutih yang sebelumnya hitam.

Suaramu bergemetar sesudah dahulunya lantang.

Bahkan akhir-akhir ini kamu lemah sesudah dahulunya kamu kuat perkasa.

Penglihatanmu kabur sesudah dahulunya terang.

Kamu dahulu penuh harapan, tetapi akhir-akhir ini sering putus asa.

Aku telah mengirim demikian banyak utusan kepadamu padahal kamu hanya meminta satu utusan.

Oleh karena itu janganlah kamu menyalahkan aku.”

Kedermawanan Sayyidina Ali RA


Rumahnya. Dia dapati istrinya, Fathimah binti Rasulillah ra. sedang duduk sambil menjahit baju. Di depannya ada Salman Al-Farisi ra. Dia membantu nyonyanya dengan menyisir-nyisir bulu domba.

“Duhai adindaku, perempuan mulia, adakah kamu punya sesuatu untuk dimakan suamimu ini?” Ali bertanya.


“Demi Allah, aku tidak punya apa-apa, kecuali 6 dirham ini yang diberikan oleh Salman. Uang ini kuperoleh sebagai imbalan menenun kain wool. Dengan uang itu aku hendak membeli makanan untuk Hasan dan Husain ra.”

“Duhai perempuan mulia, berikan padaku uang itu,” ucap Ali.

Fathimah menaruh uang itu di atas telapak tangan Ali. Ali lalu keluar rumah untuk membeli makanan dengan uang tersebut. Di tengah jalan dia melihat seorang lelaki berdiri. Dia berkata, “Siapakah yang mau menghutangi Allah, Dzat yang Maha Melindungi dan Maha Memenuhi utang?”

Anwar Alim : Tempat Terindah Adalah Kuburan

Suatu malam Imam Ibrahim bin Adham sedang berada di luar rumah. Seorang serdadu penuggang kuda yang pasukannya berkemah di sekitar tempat itu dan kebetulan mendapat cuti, datang mendekatinya, lalu bertanya, “Hai orang tua, di daerah ini, dimanakah ada tempat bersenang-senang, tempat yang paling indah?”

Ibrahim bin Adham mendongakkan kepala dan balik bertanya, “Tuan menanyakan pendapat saya?”


“Ya.”

“Tempat yang tuan maksudkan itu terletak di sana, di seberang rumah saya,” ucap Ibrahim bin Adham seraya menuding ke arah kuburan.

“Yang mana?” Tanya serdadu itu kebingungan.
“Itu, di seberang sana.”
“Yang mana? Kuburan itu?”

“Ya, betul. Tempat yang paling indah untuk bersenang-senang menurut pendapat saya, adalah kuburan.”
“Kurang ajar,” umpat serdadu itu mendongkol. Tapi ia belum berani bertindak lebih jauh, takut kalau-kalau orang tua itu seorang yang berpangkat tinggi. Jadi ia bertanya,

“Siapakah kamu hai orang tua?”
“Saya hanyalah seorang hamba.”
“Keparat!” hardik serdadu itu sembari menendang.

Kemudian Ibrahim bin Adham diseret ke perkemahannya dan diadukan kepada atasannya dengan tuduhan telah mempermainkan dan menghina tentara. Namun alangkah herannya serdadu itu melihat atasannya sangat menghormati orang tua tersebut. Karena memang ia mengenal Ibrahim bin Adham sebagai seorang alim yang amat berpengaruh.

Walau bagaimanapun, komandan tentara dengan nada penyesalan dan kekecewaan, berkata, “Saya menyayangkan sikap tuan selaku orang alim, mengapa mempermainkan anak buah saya?”

Ibrahim bin Adham bertanya tidak mengerti, “Mempermainkan anak buahmu? Dalam hal apa?”

“Ia menanyakan tempat bersenang-senang yang paling indah. Tuan kenapa menunjukkan ke kuburan?”

“Hah? Ia menanyakan pendapat saya. Tentu saja tempat bersenang-senang buat orang setua saya, hanyalah kuburan. Apakah seumur saya ini masih pantas mencari kesenangan di tempat-tempat hiburan?”

Komandan tentara itu terperangah. Terpaksa ia mengakui, Ibrahim bin Adham telah memberikan jawaban yang tepat. Tapi ia masih kurang senang. Hingga ia berkata lagi, “Andaikata tuan menerangkan dengan jujur siapa tuan sebenarnya, pasti anak buah saya takkan menendang serta menyeret tuan ke mari.”

“Maksudmu?”

“Mengapa tuan mengatakan bahwa tuan, hanya seorang hamba?”

“Apakah saya salah? Dia menanyakan siapa saya. Jadi, siapakah saya ini kecuali seorang hamba Allah? Kau, aku, dia dan kita semua bukankah cuma hamba-hamba Allah belaka? Nama, pangkat dan kedudukan hanyalah embel-embel sementara, yang tidak dapat menghilangkan kenyataan, bahwa kita adalah hamba Allah.”

Makin terperosok komandan itu ke dalam kebenaran yang pahit. Ia tak bisa mengelak, bahwa semua dalih dan penjelasan Ibrahim bin Adham adalah kejujuran paling tuntas dari seorang alim yang tawakal.

Akhirnya dengan sedih ia berkata, “Kalau begitu, maafkanlah kekurangajaran anak buah saya yang telah menendang dan menyeret tuan kemari.”

Ibrahim bin Adham dengan wajah polos menjawab, “Tidak perlu minta maaf dan tidak perlu memaafkan. Sebab sayalah yang harus mengucapkan terima kasih kepadanya.”

“Ah, sekeras itukah hati tuan sehingga tidak mau memberi maaf?” keluh komandan tentara menyesali.

“Bagaimana saya harus memberi maaf jika dia tidak perlu minta maaf? Mengapa dia mesti minta maaf, padahal dia telah membantu saya mengurangi dosa-dosa saya, melipatgandakan simpanan pahala saya dan menyebabkan do’a saya pasti dikabulkan Tuhan?”

“Maksud tuan?” Tanya komandan tentara kebingungan.

“Saya tidak bersalah. Tetapi dia telah menganiaya saya. Berarti saya termasuk orang yang dianiaya. Tidakkah engkau pernah mendengar bahwa dosa orang yang dianiaya akan dihapus dan do’anya pasti dikabulkan?”

Dengan penjelasan ini, komandan tentara makin tidak dapat berbicara. Ia hanya berjanji dalam hati untuk memarahi anak buahnya supaya bersikap lebih hormat kepada rakyat jelata.

Sumber :

Buku 30 Kisah Teladan 3 oleh KH. Abdurrahman Arroisi

Kenikmatan Ibadah Berkat Bakti Pada Orang Tua


Dalam suatu kesempatan, Allah SWT memberikan wahyu kepada Nabi Sulaiman AS untuk pergi ke laut agar melihat sesuatu yang mengagumkan dan mendapati hikmah di baliknya.


Nabi Sulaiman AS pun keluar dari istananya menuju laut bersama-sama jin dan manusia. Sesampainya di tepi laut, beliau tak melihat sesuatu yang menarik perhatiannya, lantas Nabi Sulaiman AS berkata kepada Jin Ifrit : “Menyelamlah engkau ke dasar laut ini dan kembalilah dengan membawa sesuatu yang menarik di dalamnya.” Jin ifrit pun menyelam hingga lama dan kembali lagi, lalu berkata : “Wahai Nabi Sulaiman, sungguh aku telah menyelam ke dalam laut dengan perjalanan yang amat jauh, tetapi tidak sampai ke dasarnya dan juga tidak kulihat sesuatu yang menarik.”

Anwar Alim:Keteguhan Puasa Seorang Hamba

Keteguhan Puasa Seorang Hamba

Pada suatu hari dalam perjalanan ibadah haji, seorang Amir (Gubernur) bernama Hajjaj bin Yusuf berhenti di sebagian daerah antara Mekah dan Madinah. Dia minta pelayannya agar mengambilkan makan siang untuknya, lalu berkata : “Carilah seseorang untuk menemaniku makan siang.”


Kemudian pengawal itu pergi ke arah gunung, di sana dia menjumpai seorang arab badui yang sedang tidur di antara dua mantelnya. Pengawal itu pun membangunkannya dan berkata : “Kamu dipanggil Amir.” Lantas orang arab badui bangun dari tidurnya dan mendatangi persinggahan Sang Amir.

Anwar Alimn :Juru Selamat

Juru Selamat

Ada 3 orang musafir yang kemalaman ditengah perjalanan, sampai terpaksa menginap di dalam sebuah gua. Pada waktu mereka sedang tertidur, tiba-tiba sebongkah batu besar terjatuh dari atas dan menutupi lubang gua sehingga ketiga orang itu terkurung tidak dapat keluar.



Segala daya upaya telah dilakukan untuk menggeser batu besar itu, namun sedikitpun tidak bergerak. Sesudah merenung-renung, salah seorang diantara mereka teringat akan ajaran gurunya. Ia lalu berkata, “Sungguh kita takkan dapat menyelamatkan diri dari mati terperangkap di dalam gua, kecuali bila minta tolong kepada Allah dengan bertawassul melalui amal kebajikan kita masing-masing, menurut pendapat dan pengalaman kita paling berharga.”

Berkah Sedekah

Berkah Sedekah Mati Husnul Khatimah


Syibli bercerita akan pengalamannya pada suatu hari :

“Aku pernah pergi ke suatu desa dan melihat seorang pemuda duduk di pemakaman sambil mencucurkan air mata dalam do’a dan dzikir pada Allah SWT. Ia tidak menghiraukan suatu apapun, hanya terus saja asyik dalam berdzikir memuji Allah Yang Maha Agung.”


Melihat tekunnya ia dalam beribadah, aku sangat ingin menemuinya. Kutinggalkanlah perjalanan yang kutuju, lalu berusaha untuk mendekatinya, namun pemuda itu berdiri dan lari kencang menjauhiku. Lalu aku pun mengejarnya berharap bisa menemuinya, tapi tidak mampu jualah diriku mendekatinya.


Aku berkata : “Kasihanilah aku wahai Wali Allah.” Lalu pemuda itu menjawab : “Allah”. Aku berkata lagi : “Dengan hak Allah ku mohon kau sabar menantiku.” Lalu dia memberikan isyarat dengan tangannya untuk tidak akan melakukannya. Lantas pemuda itu berkata : “Allah”. Aku pun berkata : “Bila perkataanmu benar maka tunjukkan kepadaku tentang kesungguhanmu beribadah kepada Allah.” Lalu dia berteriak mengatakan Ya Allah dan jatuh seketika. Aku pun mendekatinya, ternyata dia sudah meninggal dunia. Aku terkejut dan heran melihat keadaannya.

Jumat

Penyebab tidak dikabulkannya Do'a

Penyebab Tidak Terkabulnya Do’a

Suatu hari Ibrahim bin Adham radhiyallahu ‘anhu berada di sebuah pasar Kota Bashrah, Irak. Masyarakat Bashrah mendatangi beliau dan bertanya :

“Duhai Abu Ishaq, mengapa do’a-do’a kami tidak terkabul?”

Ibrahim bin Adham radhiyallahu ‘anhu berkata :

Do’a kalian tidak terkabul karena hati kalian telah mati dan penyebab matinya hati kalian adalah sepuluh hal :

Pertama, kalian mengenal Allah, tetapi tidak memenuhi hak-hak-Nya.

Kedua, kalian mengaku cinta kepada Rasulullah SAW, tetapi tidak mengikuti sunnah-sunnahnya.

Secuil Keju

Secuil Keju

Abu Yazid Al-Busthami sejak kecil taat kepada Allah dan suka berbuat kebajikan. Kedua orang tuanya selalu menjaga diri untuk tidak makan kecuali yang halal. Abu Yazid, sejak dalam kandungan sampai disapih dari air susu ibunya, tidak pernah berkenalan dengan barang syubhat, apalagi haram. Pada tahap awal iradah (keinginan) nya, jika mendengar suatu kebaikan, beliau mudah lupa.

Suara “TUHAN”

Suara “TUHAN”

Sejak masih muda KH. Amanullah (Tambak Beras) memang terkenal sebagai santri yang cerdik dan banyak akal. Pada waktu masih muda banyak diantara teman-teman santrinya yang suka menjalankan riyadlah’ dengan melakukan puasa, wirid dan sebagainya. Hal ini dilakukan selain sebagai upaya mensucikan kondisi spiritual (batin) juga sebagai upaya memperoleh berkah dari Allah.

Pada suatu hari ada seorang santri yang sedang melakukan riyadlah (olah rohani). Mengetahui hal ini Gus Aman (panggilan akrab KH. Amanullah) bertanya pada yang bersangkutan: “Kapan sampeyan telasan (berakhir) melakukan riyadlah?” Santri tersebut menyatakan bahwa telasannya malam Jum’at. Mendengar jawaban tersebut Gus Aman menyarankan agar wirid telasan dilakukan di sudut imaman Masjid, agar do’anya makbul.

Pada malam yang ditentukan, santri tersebut benar-benar menjalankan saran Gus Aman. Tepat jam 01.00 malam dia wirid dan berdo’a dengan sangat khusu’nya. Diam-diam Gus Aman ngintip dari lubang ventilasi. Kemudian dengan suara yang dibuat bergetar Gus Aman bilang : “njaluk opo ngger?” (minta apa cucuku).

Minuman Bingung




Minum apa…?


Suatu hari, Udin berkunjung ke rumah Didin, temannya sewaktu sama-sama mondok. Sejak pulang ke rumah tujuh belas tahun yang lalu, keduanya belum pernah sekalipun bertemu. Maklum di samping jarak kota yang berjauhan, ditambah banyaknya kesibukan membuat keduanya tidak berjumpa hingga belasan tahun lamanya.

Seperti sebuah kebetulan, Udin ada urusan yang harus diselesaikan di kota tempat tinggal Didin. Nah, kesempatan ini tak boleh aku sia-siakan, tekad Udin dalam hati.


Setelah semua urusan beres, mulailah si Udin mencari alamat Didin, sahabat yang dirindukannya. Awal mulanya agak sulit karena Didin ternyata sudah pindah alamat, namun dengan tekadnya yang besar, akhirnya bertemulah keduanya.

”Ahlan wa sahlan!!!” teriak Didin begitu melihat Udin di depan pintu. Keduanya berpelukan lama kemudian terlibat dalam obrolan hangat.

Mbah Sueb dan aji-aji sampar angin

Mbah Sungeb dan aji-aji sampar angin

Di daerah Kandangan Rembang, dulu ada seorang Kiai desa sederhana. Sudah tua tapi aktif sekali. Dimana saja ada peristiwa penting beliau selalu tampak. Misalnya di konferensi NU Wilayah, di muktamar NU. Padahal melihat penampilannya tidak meyakinkan. Sehingga terbetik kepercayaan bahwa Mbah Sungeb mempunyai aji-aji sampar angin.

Suatu ketika, Mbah Sungeb dan beberapa Kiai naik kendaraan umum pulang ke Rembang. Karena kendaraan mogok, mereka terpaksa berjalan kaki. Padahal Rembang masih jauh sekali.