Header

Header
Dunia ini gelap. Carilah penerang. yaitu Ilmu Pengetahuan
Tampilkan postingan dengan label Hikayat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikayat. Tampilkan semua postingan

Sabtu

Kedermawanan Sayyidina Ali RA


Rumahnya. Dia dapati istrinya, Fathimah binti Rasulillah ra. sedang duduk sambil menjahit baju. Di depannya ada Salman Al-Farisi ra. Dia membantu nyonyanya dengan menyisir-nyisir bulu domba.

“Duhai adindaku, perempuan mulia, adakah kamu punya sesuatu untuk dimakan suamimu ini?” Ali bertanya.


“Demi Allah, aku tidak punya apa-apa, kecuali 6 dirham ini yang diberikan oleh Salman. Uang ini kuperoleh sebagai imbalan menenun kain wool. Dengan uang itu aku hendak membeli makanan untuk Hasan dan Husain ra.”

“Duhai perempuan mulia, berikan padaku uang itu,” ucap Ali.

Fathimah menaruh uang itu di atas telapak tangan Ali. Ali lalu keluar rumah untuk membeli makanan dengan uang tersebut. Di tengah jalan dia melihat seorang lelaki berdiri. Dia berkata, “Siapakah yang mau menghutangi Allah, Dzat yang Maha Melindungi dan Maha Memenuhi utang?”

Anwar Alim : Tempat Terindah Adalah Kuburan

Suatu malam Imam Ibrahim bin Adham sedang berada di luar rumah. Seorang serdadu penuggang kuda yang pasukannya berkemah di sekitar tempat itu dan kebetulan mendapat cuti, datang mendekatinya, lalu bertanya, “Hai orang tua, di daerah ini, dimanakah ada tempat bersenang-senang, tempat yang paling indah?”

Ibrahim bin Adham mendongakkan kepala dan balik bertanya, “Tuan menanyakan pendapat saya?”


“Ya.”

“Tempat yang tuan maksudkan itu terletak di sana, di seberang rumah saya,” ucap Ibrahim bin Adham seraya menuding ke arah kuburan.

“Yang mana?” Tanya serdadu itu kebingungan.
“Itu, di seberang sana.”
“Yang mana? Kuburan itu?”

“Ya, betul. Tempat yang paling indah untuk bersenang-senang menurut pendapat saya, adalah kuburan.”
“Kurang ajar,” umpat serdadu itu mendongkol. Tapi ia belum berani bertindak lebih jauh, takut kalau-kalau orang tua itu seorang yang berpangkat tinggi. Jadi ia bertanya,

“Siapakah kamu hai orang tua?”
“Saya hanyalah seorang hamba.”
“Keparat!” hardik serdadu itu sembari menendang.

Kemudian Ibrahim bin Adham diseret ke perkemahannya dan diadukan kepada atasannya dengan tuduhan telah mempermainkan dan menghina tentara. Namun alangkah herannya serdadu itu melihat atasannya sangat menghormati orang tua tersebut. Karena memang ia mengenal Ibrahim bin Adham sebagai seorang alim yang amat berpengaruh.

Walau bagaimanapun, komandan tentara dengan nada penyesalan dan kekecewaan, berkata, “Saya menyayangkan sikap tuan selaku orang alim, mengapa mempermainkan anak buah saya?”

Ibrahim bin Adham bertanya tidak mengerti, “Mempermainkan anak buahmu? Dalam hal apa?”

“Ia menanyakan tempat bersenang-senang yang paling indah. Tuan kenapa menunjukkan ke kuburan?”

“Hah? Ia menanyakan pendapat saya. Tentu saja tempat bersenang-senang buat orang setua saya, hanyalah kuburan. Apakah seumur saya ini masih pantas mencari kesenangan di tempat-tempat hiburan?”

Komandan tentara itu terperangah. Terpaksa ia mengakui, Ibrahim bin Adham telah memberikan jawaban yang tepat. Tapi ia masih kurang senang. Hingga ia berkata lagi, “Andaikata tuan menerangkan dengan jujur siapa tuan sebenarnya, pasti anak buah saya takkan menendang serta menyeret tuan ke mari.”

“Maksudmu?”

“Mengapa tuan mengatakan bahwa tuan, hanya seorang hamba?”

“Apakah saya salah? Dia menanyakan siapa saya. Jadi, siapakah saya ini kecuali seorang hamba Allah? Kau, aku, dia dan kita semua bukankah cuma hamba-hamba Allah belaka? Nama, pangkat dan kedudukan hanyalah embel-embel sementara, yang tidak dapat menghilangkan kenyataan, bahwa kita adalah hamba Allah.”

Makin terperosok komandan itu ke dalam kebenaran yang pahit. Ia tak bisa mengelak, bahwa semua dalih dan penjelasan Ibrahim bin Adham adalah kejujuran paling tuntas dari seorang alim yang tawakal.

Akhirnya dengan sedih ia berkata, “Kalau begitu, maafkanlah kekurangajaran anak buah saya yang telah menendang dan menyeret tuan kemari.”

Ibrahim bin Adham dengan wajah polos menjawab, “Tidak perlu minta maaf dan tidak perlu memaafkan. Sebab sayalah yang harus mengucapkan terima kasih kepadanya.”

“Ah, sekeras itukah hati tuan sehingga tidak mau memberi maaf?” keluh komandan tentara menyesali.

“Bagaimana saya harus memberi maaf jika dia tidak perlu minta maaf? Mengapa dia mesti minta maaf, padahal dia telah membantu saya mengurangi dosa-dosa saya, melipatgandakan simpanan pahala saya dan menyebabkan do’a saya pasti dikabulkan Tuhan?”

“Maksud tuan?” Tanya komandan tentara kebingungan.

“Saya tidak bersalah. Tetapi dia telah menganiaya saya. Berarti saya termasuk orang yang dianiaya. Tidakkah engkau pernah mendengar bahwa dosa orang yang dianiaya akan dihapus dan do’anya pasti dikabulkan?”

Dengan penjelasan ini, komandan tentara makin tidak dapat berbicara. Ia hanya berjanji dalam hati untuk memarahi anak buahnya supaya bersikap lebih hormat kepada rakyat jelata.

Sumber :

Buku 30 Kisah Teladan 3 oleh KH. Abdurrahman Arroisi

Kenikmatan Ibadah Berkat Bakti Pada Orang Tua


Dalam suatu kesempatan, Allah SWT memberikan wahyu kepada Nabi Sulaiman AS untuk pergi ke laut agar melihat sesuatu yang mengagumkan dan mendapati hikmah di baliknya.


Nabi Sulaiman AS pun keluar dari istananya menuju laut bersama-sama jin dan manusia. Sesampainya di tepi laut, beliau tak melihat sesuatu yang menarik perhatiannya, lantas Nabi Sulaiman AS berkata kepada Jin Ifrit : “Menyelamlah engkau ke dasar laut ini dan kembalilah dengan membawa sesuatu yang menarik di dalamnya.” Jin ifrit pun menyelam hingga lama dan kembali lagi, lalu berkata : “Wahai Nabi Sulaiman, sungguh aku telah menyelam ke dalam laut dengan perjalanan yang amat jauh, tetapi tidak sampai ke dasarnya dan juga tidak kulihat sesuatu yang menarik.”

Anwar Alim:Keteguhan Puasa Seorang Hamba

Keteguhan Puasa Seorang Hamba

Pada suatu hari dalam perjalanan ibadah haji, seorang Amir (Gubernur) bernama Hajjaj bin Yusuf berhenti di sebagian daerah antara Mekah dan Madinah. Dia minta pelayannya agar mengambilkan makan siang untuknya, lalu berkata : “Carilah seseorang untuk menemaniku makan siang.”


Kemudian pengawal itu pergi ke arah gunung, di sana dia menjumpai seorang arab badui yang sedang tidur di antara dua mantelnya. Pengawal itu pun membangunkannya dan berkata : “Kamu dipanggil Amir.” Lantas orang arab badui bangun dari tidurnya dan mendatangi persinggahan Sang Amir.

Anwar Alimn :Juru Selamat

Juru Selamat

Ada 3 orang musafir yang kemalaman ditengah perjalanan, sampai terpaksa menginap di dalam sebuah gua. Pada waktu mereka sedang tertidur, tiba-tiba sebongkah batu besar terjatuh dari atas dan menutupi lubang gua sehingga ketiga orang itu terkurung tidak dapat keluar.



Segala daya upaya telah dilakukan untuk menggeser batu besar itu, namun sedikitpun tidak bergerak. Sesudah merenung-renung, salah seorang diantara mereka teringat akan ajaran gurunya. Ia lalu berkata, “Sungguh kita takkan dapat menyelamatkan diri dari mati terperangkap di dalam gua, kecuali bila minta tolong kepada Allah dengan bertawassul melalui amal kebajikan kita masing-masing, menurut pendapat dan pengalaman kita paling berharga.”

Berkah Sedekah

Berkah Sedekah Mati Husnul Khatimah


Syibli bercerita akan pengalamannya pada suatu hari :

“Aku pernah pergi ke suatu desa dan melihat seorang pemuda duduk di pemakaman sambil mencucurkan air mata dalam do’a dan dzikir pada Allah SWT. Ia tidak menghiraukan suatu apapun, hanya terus saja asyik dalam berdzikir memuji Allah Yang Maha Agung.”


Melihat tekunnya ia dalam beribadah, aku sangat ingin menemuinya. Kutinggalkanlah perjalanan yang kutuju, lalu berusaha untuk mendekatinya, namun pemuda itu berdiri dan lari kencang menjauhiku. Lalu aku pun mengejarnya berharap bisa menemuinya, tapi tidak mampu jualah diriku mendekatinya.


Aku berkata : “Kasihanilah aku wahai Wali Allah.” Lalu pemuda itu menjawab : “Allah”. Aku berkata lagi : “Dengan hak Allah ku mohon kau sabar menantiku.” Lalu dia memberikan isyarat dengan tangannya untuk tidak akan melakukannya. Lantas pemuda itu berkata : “Allah”. Aku pun berkata : “Bila perkataanmu benar maka tunjukkan kepadaku tentang kesungguhanmu beribadah kepada Allah.” Lalu dia berteriak mengatakan Ya Allah dan jatuh seketika. Aku pun mendekatinya, ternyata dia sudah meninggal dunia. Aku terkejut dan heran melihat keadaannya.

Jumat

Penyebab tidak dikabulkannya Do'a

Penyebab Tidak Terkabulnya Do’a

Suatu hari Ibrahim bin Adham radhiyallahu ‘anhu berada di sebuah pasar Kota Bashrah, Irak. Masyarakat Bashrah mendatangi beliau dan bertanya :

“Duhai Abu Ishaq, mengapa do’a-do’a kami tidak terkabul?”

Ibrahim bin Adham radhiyallahu ‘anhu berkata :

Do’a kalian tidak terkabul karena hati kalian telah mati dan penyebab matinya hati kalian adalah sepuluh hal :

Pertama, kalian mengenal Allah, tetapi tidak memenuhi hak-hak-Nya.

Kedua, kalian mengaku cinta kepada Rasulullah SAW, tetapi tidak mengikuti sunnah-sunnahnya.

Secuil Keju

Secuil Keju

Abu Yazid Al-Busthami sejak kecil taat kepada Allah dan suka berbuat kebajikan. Kedua orang tuanya selalu menjaga diri untuk tidak makan kecuali yang halal. Abu Yazid, sejak dalam kandungan sampai disapih dari air susu ibunya, tidak pernah berkenalan dengan barang syubhat, apalagi haram. Pada tahap awal iradah (keinginan) nya, jika mendengar suatu kebaikan, beliau mudah lupa.

Suara “TUHAN”

Suara “TUHAN”

Sejak masih muda KH. Amanullah (Tambak Beras) memang terkenal sebagai santri yang cerdik dan banyak akal. Pada waktu masih muda banyak diantara teman-teman santrinya yang suka menjalankan riyadlah’ dengan melakukan puasa, wirid dan sebagainya. Hal ini dilakukan selain sebagai upaya mensucikan kondisi spiritual (batin) juga sebagai upaya memperoleh berkah dari Allah.

Pada suatu hari ada seorang santri yang sedang melakukan riyadlah (olah rohani). Mengetahui hal ini Gus Aman (panggilan akrab KH. Amanullah) bertanya pada yang bersangkutan: “Kapan sampeyan telasan (berakhir) melakukan riyadlah?” Santri tersebut menyatakan bahwa telasannya malam Jum’at. Mendengar jawaban tersebut Gus Aman menyarankan agar wirid telasan dilakukan di sudut imaman Masjid, agar do’anya makbul.

Pada malam yang ditentukan, santri tersebut benar-benar menjalankan saran Gus Aman. Tepat jam 01.00 malam dia wirid dan berdo’a dengan sangat khusu’nya. Diam-diam Gus Aman ngintip dari lubang ventilasi. Kemudian dengan suara yang dibuat bergetar Gus Aman bilang : “njaluk opo ngger?” (minta apa cucuku).