Header

Header
Dunia ini gelap. Carilah penerang. yaitu Ilmu Pengetahuan
Tampilkan postingan dengan label Asal-Usul Desa Sembayat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asal-Usul Desa Sembayat. Tampilkan semua postingan

Sabtu

Sejarah Desa Sembayat

Asal Muasal Desa Sembayat Manyar Gresik

Desa Sembayat merupakan salah satu desa yang berada di wilayah kecamatan Manyar kabupaten Gresik, sekitar 15 km arah utara kota Gresik. Nama desa itu tidak asing lagi bagi para pengguna jalan Pantura (Pantai Utara).Lebih-lebuh pada saat seputar lebaran Idul Fitri. Jalan itu dijadikan sebagai salah satu jalan alternatif bagi pemudik.
Desa itu sangat dikenal oleh para pengguna jalan Pantura karena desa itu berada di sebelah selatan jembatan yang melintas di atas sungai terpanjang di pulau Jawa, yakni Bengawan Solo. Jembatan itu menghubungkan wilayah kecamatan Bungah dengan wilayah kecamatan Manyar.
Namun demikian, belum banyak masyarakat yang tahu mengapa desa itu dinamai Sembayat. Menurut kitab Asal-usul Ujungpangkah karangan Syeikh Muridin, keturunan kelima Sunan Bonang Tuban, nama sembayat berhubungan erat dengan kisah Cinde Amo.
Siapa sebenarnya Cinde Amo itu?
Cinde Amo alias Jaka Sekintel adalah putra keempat Jayeng Katon bin Sunan Bonang Tuban dari lima bersaudara. Kelima putra Jayeng Katon adalah Pendel Wesi, Jaka Karang Wesi, Cinde Amo, Jaka Berek Sawonggaling, dan Jaka Slining.
Cinde Amo, cucu Sunan Bonang, saat masih remaja dipondokkan oleh orang tuanya di Pondok yang diasuh oleh Sunan Giri di Giri Gresik. Sebenarnya antara Cinde Amo dengan Sunan Giri masih ada hubungan keluarga. Cinde Amo putra Jayeng Katon. Jayeng Katon putra Sunan Bonang. Sunan Bonang putra Sunan Ampel. Sunan Ampel putra Syeikh Ibrahim Asmarakondi. Syeikh Ibrahim Asmarakondi adalah putra Syeikh Jamaluddin Jumadil Kubra.
. Syeikh Jamaluddin Jumadil Kubra sebagai penyebar Islam di pulau Jawa yang dikenal dengan sebutan Walisongo. Beliau termasuk Walisongo periode pertama. Beliau berputra tiga orang, yakni Syeikh Ibrahim Asmarakondi, Syeikh Abdullah Asyari, dan Syeikh Maulana Ishak. Syekh Ibrahim Asmarakandi pesareannya di desa Gresikharjo kecamatan Palang Tuban, 8 km sebelah timur kota Tuban. Syeikh Abdullah Asyari pesareannya di desa Bejagung Tuban, 2 km sebelah selatan kota Tuban. Syeikh Maulana Ishak kembali ke Pasai dan wafat di sana.
Hubungan kekeluargaan antara Cinde Amo dengan Sunan Giri bertemu di Syeikh Jamaluddin Jumadil Kubra yang melatarbelakangi Jayeng Katon mempercayakan pendidikan Cine Amo, putranya kepada Sunan Giri. Disamping agar Cinde Amo bisa memperdalam ilmu syariat agama Islam kepada Sunan Giri. Jayeng Katon tidak salah memilih Sunan Giri sebagai guru putranya karena memang Sunan Giri dikenal sebagai seorang wali yang menguasai ilmu syariat agama Islam. Hal ini terbukti dengan gelar Ainul Yaqin yang diterimanya juga untuk memperkokoh hubungan kekeluargaan.
Setelah menamatkan pelajaran di pondok Sunan Giri, Cinde Amo pulang ke Ujungpangkah. Untuk mengamalkan ilmunya, Cinde Amo mendirikan pondok pesantren di Unusan Pangkahwetan Ujungpangkah. Pondok itu dikenal dengan nama Pondok Unusan. Pondok itu berada di tepi pantai, kala itu sebelum berubah menjadi ujung. Untuk mencari pondok Unusan tidak terlalu sulit karena di sekitar pondok itu ditandai dengan pohon kamboja. Di bawah pohon kamboja itu juga digunakan oleh Cinde Amo sebagai tempat untuk mengajarkan ilmu-ilmu kepada para santrinya. Cinde Amo rupanya sudah menerapkan sistem pendidikan modern. Pendidikan tidak hanya dilaksanakan di dalam ruang belajar belajar saja, namun juga menggunakan alam sekitar sebagai tempat belajar.
Suatu hari Cinde Amo dipanggil Nyai Jika, panggilan ibunya, untuk mencari Jayeng Katon, ayahnya yang sudah lama meninggalkan Ujugpangkah untuk berdakwah keliling pulau Jawa dan ke luar pulau Jawa. Sebenarnya Nyai Jika sudah menugasi saudara-saudara Cinde Amo untuk mencari orang tua mereka, namun belum berhasil. Pendil Wesi, putra pertama, mencari di wilayah Lamongan dan sekitarnya, Jaka Karang Wesi mencari ke wilayah Demak dan sekitarnya, Jaka Berek Sawonggaling ke wilayah dan sekitarnya. Namun, ketika kakak Cinde Amo belum berhasil menemukan keberadaan Jayeng Katon. Maklum Jayeng Katon suka berdakwah dari tempat yang satu ke tempat lainnya sambil bersilaturrahim kepada keluarga dan para santrinya yang pernah belajar di pondok Pangkah miliknya.
Kini giliran Cionde Amo, putra keempat Nyai Jika yang ditugaskan mencari abahnya. Ia pergi untuk mencari abahnya. Ketiga kakaknya telah kembali dengan tangan hampa. Mereka tidak berhasil menemukan abahnya. Ia bertugas mencari keberadaan abahnya di wilayah Gresik dan sekitarnya karena waktu kecil ia dipondokkan di pondok Sunan Giri yang berada di pegunungan Giri Gresik.
Cinde Amo bersilaturrahim ke Sunan Giri gurunya untuk meminta petunjuk keberadaan abahnya. Di pondok Giri Cinde Amo teringat masa-masa belajar dengan Sunan Giri. Ia mempelajari dengan tekun pelajaran yang diberikan oleh gurunya. Ia juga menghapalkan Alquran selama di pondok. Ia baru meninggalkan pondok Giri setelah tamat belajar dan hapal Alquran.
Sunan Giri memberikan petunjuk kepada santrinya itu tempat-tempat yang biasa didatangi Jayeng Katon abahnya. Ia mendatangi ke pelosok wilayah Gresik dan sekitarnya. Di tempat-tempat yang ditunjukkan Sunan Giri itu telah didatanginya namun abahnya tidak dijumpainya di sana. Jayeng Katon sudah lama meninggalkan wilayah Gresik. Karena sudah tidak menemukan abahnya di wilayah itu, Cinde Amo memutuskan pulang ke Ujungpangkah.
Di tengah perjalanan Cinde Amo bertemu dengan seorang gadis cantik. Ia terpikat gadis itu. Ia datangi rumah orang tua gadis itu. Ia mengutarakan maksud kedatangannya kepada orang tua gadis itu. Orang tua gadis itu menanyakan keluarga Cinde Amo. Cinde Amo mengutarakan kepada calon mertunya dengan apa adanya. Ia tidak menambah dan tidak mengurangi. Ia masih memegang teguh ajaran gurunya agar ia selalu berkata jujur kepada siapa saja karena jujur itu termasuk sifat orang beriman. Sebaliknya berbohong itu termasuk sifat orang munafik.
Lamaran Cinde Amo diterima setelah mengetahui latar belakang keluarnya. Ia dinikahkan dengan putrinya. Setelah menikah ia membuat pondokan sendiri. Di pondokan itu penduduk setempat menyuruh anak-anaknya untuk belajar ilmu agama kepada. Kian hari kian bertambah anak-anak yang datang.Mula-mula anak-anak penduduk setempat lama-kelamaan anak-anak dari luar ikut membanjiri rumahnya. Rumahnya berubah menjadi pondok. Masyarakat setempat dan penduduk sekitarnya datang menitipkan putra-putrinya untuk dididik oleh Cinde Amo. Cinde Amo terkenal di tempat itu sebagai orang yang alim dan hapal Alquran. Banyak ulama yang datang ke pondoknya untuk berdiskusi tentang ayat-ayat dalam kitab suci Alquran. Mereka mohon penjelasan makna yang terkandung dalam ayat-ayat Alquran. Cinde Amo menerangkan secara gamblang makna yang tersurat maupun yang tersirat dari ayat-ayat yang dipertanyakan. Ia juga banyak didatangi ulama-ulama dari berbagai daerah untuk memesan tulisan tangan. Ada ulama yang datang memesan Alquran Stambul, quran berukuran kecil.
Suatu hari Sunan Kalijogo bersilaturrahim ke pondoknya. Ia memberi wejangan kepada Cinde Amo. Wejangan itu disampaikan dalam bentuk tembang dandang gulo. Wejangan itu dihapal oleh Cinde Amo. Tembang itu sering dilagukan oleh Cinde Amo di pondoknya sebelum memberikan pelajaran kepada santri-santrinya.
Dalam kesempatan itu, Sunan Kalijogo memanggil Cinde Amo dengan sebutan Ki Ageng Mbah Ayat karena kedalaman ilmunya dalam memahami setiap ayat-ayat Alquran. Sejak saat itu para santri dan penduduk setempat bahkan ulama-ulama yang datang ke pondoknya memanggilnya Ki Ageng Mbah Ayat. Dari panggilan itu muncul panggilan-panggilan serupa seperti Mbah Ayat, Si Mbahe Ayat, Ki Mbayat. Dari panggilan itu namanya diabadikan sebagai nama tempat pondoknya. Pondoknya disebut Pondok Mbayat atau Pondok Sembayat. Desa tempat pondoknya berada disebut Sembayat atau Bayat.
Suatu hari Ki Ageng Bayat pulang ke Ujungapangkah. Ia ke pondok Unusan menemui santri-santri yang lama ditinggalkan mengembara mencari Jayeng Katon. Ia juga mengunjungi Nyai Jika dan mengabarkan kegagalannya mencari abahnya. Ia harus bolak balik dari pondok Unusan Ujungpangkah ke Pondok Bayat. Cinde Amo mempunyai tiga belas putra. Sepuluh dari putra Cinde Amo tinggal di wilayah Sembayat sedangkan tiga lainnya menetap di Ujungpangkah. Jaka Sembung adalah anaknya yang dipercaya membantu mengasuh pondok Unusan Ujungpangkah bila dirinya pergi berdakwah.
Pada masa tuanya Cinde Amo memilih menetap di Ujungpangkah untuk mengurusi pondok Unusan yang lama ditinggalkan hingga akhir hayatnya. Sedangkan pondok Sembayat dipercayakankan kepada putra-putranya untuk meneruskan kelangsungan pendidikannya. Cinde Amo wafat di Ujungpangkah dan dikuburkan di sekitar pondok Unusan Pangkahwetan Ujungpangkah. Makam tempat Cinde Amo dikuburkan dikenal dengan nama kuburan Unusan. Kini kuburan Cinde Amo itu berada di belakang gedung SDN Pangkahwetan 2 Ujungpangkah.